Jabarku.co.id | CIANJUR — Ribuan warga memadati ruas jalan utama Kabupaten Cianjur saat Kirab Budaya Mahkota Binokasih digelar meriah dalam rangka Milangkala Tatar Sunda 2026, Rabu (6/5/2026) malam. Suasana semakin menyita perhatian ketika Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, tampil menunggangi kuda putih sambil mengawal pusaka bersejarah peninggalan Kerajaan Sunda tersebut.
Kirab budaya bertajuk “Napak Tilas Padjadjaran” itu menempuh rute sekitar empat kilometer, dimulai dari Lapang Prawatasari hingga Pendopo Bupati Cianjur. Sepanjang perjalanan, masyarakat tampak antusias menyambut iring-iringan budaya yang menghadirkan nuansa kerajaan Sunda tempo dulu.
Sorak warga, cahaya lampu malam, dan pertunjukan seni tradisional menciptakan atmosfer sakral sekaligus megah. Banyak masyarakat rela bertahan hingga larut malam demi menyaksikan langsung prosesi kirab Mahkota Binokasih yang disebut-sebut menjadi salah satu agenda budaya terbesar di Jawa Barat tahun ini.
Tidak hanya menjadi tontonan budaya, kirab tersebut juga menjadi simbol pelestarian sejarah dan identitas Sunda. Kehadiran Dedi Mulyadi di atas kuda putih dinilai memperkuat nuansa historis yang merepresentasikan perjalanan panjang peradaban Pajajaran di tanah Pasundan.
Sebanyak 23 kabupaten dan kota di Jawa Barat turut ambil bagian dalam kirab budaya tersebut dengan menampilkan berbagai kesenian khas daerah. Mulai dari kesenian Mamanukan asal Tasikmalaya, Jajangkungan dari Karawang, hingga Tari Posong khas Cianjur tampil memukau di hadapan ribuan penonton.
“Terima kasih kepada masyarakat Cianjur. Ini menjadi salah satu kirab budaya paling meriah selama perjalanan Mahkota Binokasih di Jawa Barat,” ujar Dedi Mulyadi usai kegiatan berlangsung.
Sebelumnya, Mahkota Binokasih telah dikirab di sejumlah daerah seperti Sumedang, Ciamis, Tasikmalaya, dan Garut. Setelah dari Cianjur, pusaka tersebut dijadwalkan melanjutkan perjalanan menuju Kota Bogor dengan rute Kebun Raya Bogor hingga kawasan Batutulis.

Di balik kemeriahan acara budaya itu, Pemerintah Provinsi Jawa Barat juga memanfaatkan momentum kirab sebagai sarana pemantauan kondisi infrastruktur dan lingkungan di wilayah yang dilalui.
Sekretaris Daerah Jawa Barat, Herman Suryatman, mengungkapkan bahwa gubernur secara langsung melakukan pengecekan terhadap kondisi jalan provinsi, drainase, sempadan jalan, hingga titik rawan longsor selama kegiatan berlangsung.
Menurut Herman, pihaknya menemukan sejumlah persoalan lingkungan seperti pemasangan spanduk menggunakan paku di pohon serta aktivitas usaha yang berpotensi merusak lingkungan sekitar jalan provinsi.
“Kami langsung melakukan penertiban terhadap berbagai pelanggaran yang ditemukan di lapangan, termasuk persoalan yang berpotensi mengganggu keselamatan masyarakat,” kata Herman.
Pemprov Jabar juga menyoroti kawasan rawan longsor akibat penebangan pohon di area tebing. Bahkan, satu rumah warga di wilayah tertentu dinilai berada di titik berbahaya dan tengah disiapkan langkah relokasi demi keselamatan penghuni.
Mahkota Binokasih sendiri merupakan pusaka bersejarah peninggalan Kerajaan Sunda Pajajaran yang kini tersimpan di Museum Prabu Geusan Ulun, Sumedang. Mahkota berbahan emas murni seberat sekitar delapan kilogram itu memiliki filosofi mendalam mengenai kepemimpinan, kasih sayang, dan harmoni kehidupan masyarakat Sunda.
Kirab budaya Mahkota Binokasih menjadi bagian dari rangkaian kegiatan “Nyuhun Buhun, Nata Nagara” yang digagas Pemerintah Provinsi Jawa Barat sebagai upaya menjaga warisan budaya Sunda di tengah arus modernisasi.
Melalui kegiatan tersebut, pemerintah berharap generasi muda tidak melupakan akar sejarah dan nilai-nilai budaya yang menjadi identitas masyarakat Tatar Sunda. (b@ng.vo)

