Jabarku.co.id | Jakarta – Presiden Prabowo Subianto menunjukkan keseriusannya dalam menjaga ketahanan pangan nasional dengan memanggil Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman ke Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (18/6/2026). Pertemuan tersebut secara khusus membahas langkah strategis pemerintah dalam menghadapi potensi dampak fenomena iklim El Nino Godzilla yang diperkirakan dapat memengaruhi produksi pangan di berbagai wilayah Indonesia.
Dalam pertemuan itu, Presiden menegaskan bahwa sektor pangan menjadi prioritas utama yang harus dijaga di tengah ancaman perubahan iklim global. Pemerintah pun memastikan kondisi cadangan pangan nasional saat ini masih berada pada level yang sangat aman.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menjelaskan, hingga Juni 2026 cadangan beras nasional telah mencapai sekitar 5,2 juta ton. Jumlah tersebut menjadi salah satu yang terbesar dalam beberapa tahun terakhir dan dinilai cukup untuk menjaga stabilitas pasokan di tengah berbagai tantangan cuaca ekstrem.
Selain stok yang tersimpan di gudang pemerintah, ketersediaan beras yang berada di hotel, rumah tangga, restoran, serta jaringan distribusi pangan lainnya turut memperkuat posisi Indonesia dalam menjaga ketahanan pangan. Secara keseluruhan, persediaan pangan nasional diperkirakan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat hingga 10 sampai 11 bulan ke depan.
Untuk mengantisipasi dampak El Nino yang berpotensi menyebabkan kekeringan berkepanjangan, pemerintah telah menyiapkan sejumlah program mitigasi. Langkah tersebut meliputi pembangunan embung, irigasi pompa, sumur dalam, hingga program pompanisasi guna memastikan pasokan air bagi lahan pertanian tetap tersedia.
Tak hanya itu, pemerintah juga mengoptimalkan pemanfaatan lahan rawa agar produktivitas pertanian meningkat. Melalui program tersebut, frekuensi panen yang sebelumnya hanya sekali dalam setahun ditargetkan meningkat menjadi dua hingga tiga kali panen.
Di sisi lain, percepatan program cetak sawah baru terus dilakukan untuk memperluas area produksi pangan nasional. Kebijakan ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang pemerintah dalam memperkuat kemandirian pangan sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor.
Upaya menjaga stabilitas pangan juga dilakukan melalui pengendalian harga komoditas strategis seperti telur dan daging ayam. Pemerintah menggandeng peternak serta Badan Gizi Nasional untuk memastikan harga tetap stabil sekaligus menjaga kesejahteraan produsen dan keterjangkauan bagi masyarakat.
Tidak hanya fokus pada sektor pangan pokok, pemerintah juga mempercepat hilirisasi komoditas hortikultura dan perkebunan bernilai tinggi seperti kopi, kelapa, dan tebu. Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah produk pertanian sekaligus memperkuat daya saing Indonesia di pasar global.
Berbagai program bantuan untuk petani pun dipastikan berlanjut hingga 2027 dengan cakupan lahan mencapai sekitar 870 ribu hektare, termasuk di wilayah Papua. Dukungan tersebut menjadi bagian dari komitmen pemerintah dalam memperkuat kapasitas produksi petani di seluruh Indonesia.
Presiden Prabowo menegaskan bahwa ketahanan pangan merupakan fondasi utama pembangunan bangsa. Karena itu, seluruh langkah antisipatif harus dilakukan secara terukur, cepat, dan berkelanjutan agar Indonesia mampu menghadapi setiap tantangan iklim yang muncul di masa depan.
“Ketahanan pangan harus tetap terjaga, petani harus semakin kuat, dan Indonesia harus siap menghadapi berbagai tantangan iklim dengan strategi yang matang serta berkelanjutan,” menjadi pesan utama Presiden dalam rapat tersebut.
Dengan berbagai langkah yang telah disiapkan, pemerintah optimistis Indonesia mampu menjaga stabilitas pangan nasional sekaligus memperkuat posisi sebagai negara yang tangguh menghadapi perubahan iklim global.

