Jabarku.co.id | Sukabumi – Inspeksi mendadak (sidak) yang dilakukan Badan Gizi Nasional (BGN) ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Margaluyu, Kecamatan Sagaranten, Kabupaten Sukabumi, mengungkap sederet persoalan mengejutkan di balik pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Sidak dipimpin langsung Wakil Kepala BGN Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi, Nanik Sudaryati bersama tim BGN dan tim Wakil Presiden, menyusul viralnya temuan ulat di dalam ompreng makanan MBG yang menjadi sorotan publik di media sosial.
Meski dari luar bangunan tampak megah dan representatif, kondisi di dalam dapur justru memunculkan banyak tanda tanya. Sejumlah fasilitas disebut tidak memenuhi standar teknis yang telah ditetapkan BGN.
Saat memasuki area dapur, Nanik mengaku langsung dibuat heran dengan tata letak ruangan yang dinilai semrawut dan tidak memiliki alur kerja yang jelas. Bahkan kondisi lantai yang licin dan tidak rata dinilai membahayakan para pekerja.
“Begitu masuk saya bingung dengan alurnya. Saya bahkan hampir terpeleset karena lantainya licin akibat bekas minyak dan kurang dibersihkan,” ungkap Nanik dalam keterangannya, Minggu (10/5/2026).
Tak hanya itu, alat steam rice utama diketahui dalam kondisi rusak sehingga proses memasak nasi masih menggunakan dandang tradisional. Padahal, menurut BGN, setiap mitra seharusnya memiliki alat cadangan guna menjamin kelancaran pelayanan makanan bagi para penerima manfaat.
“Kami meminta setiap mitra memiliki minimal dua steam rice. Jika satu rusak, operasional tetap bisa berjalan,” tegasnya.
Temuan lain yang menjadi perhatian serius berada di ruang pemorsian makanan. Gudang penyimpanan bahan makanan diketahui menghadap langsung ke area pemorsian, sementara buah-buahan disimpan di bawah meja penyajian. Kondisi tersebut diduga kuat menjadi salah satu penyebab munculnya ulat di dalam ompreng makanan.
“Buah kemungkinan tidak dicuci bersih, lalu ulat naik ke meja pemorsian dan masuk ke ompreng makanan,” jelasnya.
Selain persoalan kebersihan, berbagai fasilitas penunjang juga dinilai jauh dari standar. Gudang pendingin tidak bekerja optimal, showcase makanan tidak dingin, tidak tersedia chiller, hingga kapasitas genset yang dianggap terlalu kecil untuk menopang operasional dapur MBG.
Area pencucian ompreng pun menuai sorotan lantaran dinilai tidak higienis dan lebih menyerupai tempat pencucian kendaraan dibanding fasilitas pencucian peralatan makanan.
Ironisnya, mess Kepala SPPG, pengawas gizi, dan pengawas keuangan justru berada di luar area utama, meski masih tersedia lahan kosong di dalam lingkungan SPPG.
Dari hasil sidak tersebut, Nanik menilai pengelola SPPG Margaluyu belum menunjukkan kesiapan dan keseriusan dalam menjalankan program strategis nasional yang berkaitan langsung dengan kebutuhan gizi masyarakat.
“SPPG ini terkesan belum serius menjadi mitra BGN. Banyak hal mendasar yang seharusnya menjadi perhatian utama,” tegasnya.
Dalam sidak itu, tim juga menemukan dua wastafel yang diduga baru dipasang menjelang kedatangan rombongan pemeriksa. Namun setelah diperiksa lebih lanjut, wastafel tersebut ternyata tidak memiliki sambungan aliran air.
“Saat kami datang terlihat seolah-olah sudah ada fasilitas cuci tangan, tetapi setelah dicek ternyata tidak ada aliran airnya. Jadi hanya sebatas formalitas,” pungkasnya.

